Wednesday, March 30, 2005

Tadi malam aku bikin puisi, tapi mellow banget, aku cerita intinya saja ya, bahwa aku memanggil namamu semalam, dan memimpikanmu bermalam-malam.
Rasanya begini, kalau aku tak tau kau dimana. Sekelilingku, dan tempat yang ku pijak berubah jadi asing. Inginnya kau bawa saja aku, kemana kau pergi.
(tuh, kan, intinya masih mellow juga)

12:57 AM

Sunday, March 27, 2005

commemoration

Tak ada matahari sedari pagi hingga sore ini. Akan tetapi juga tidak hujan. Hari yang tepat untuk melamun karena kita tidak perlu dikagetkan oleh pergantian waktu yang kentara lewat terang lalu gelap, seperti juga pagi berganti siang lalu malam. Ya, aku Cuma melamun, sepanjang pagi hingga siang. Sembari menunggu jam untuk berangkat ke Utan kayu. At least, hari ini punya tujuan hidup, yakni nonton film, yang kebetulan filmnya pernah kau ceritakan padaku. Waking Life. Film kelima Richard Linklater yang ku tonton sepanjang liburan ini. Mirip dengan beberapa film sebelumnya seperti Slackers dan Dazed and Confusion, Waking Life sangat berjejalan percakapan orang-orang. Banyak sekali quote menarik yang bisa didapat dari film itu. Aku membayangkan Richard Linklater ini mungkin orang yang pendiam, sehingga ia bisa secerewet itu di film-filmnya. Tapi aku sangat menikmatinya. Entahlah, ada semacam perasaan bahwa aku adalah one of those guys. 24 tahun aku menjalani hidup, rasanya tak beda dengan mimpi, dan hari ini bisa jadi aku sedang terbangun, tapi ketika hari sudah berganti lagi, maka hari ini menjadi mimpi, dan begitu seterusnya. Atau mungkin memang begitu, dan ketika kita mati, maka, rasanya hidup kita yang sepanjang itu, seperti sebuah mimpi semalam. Aku lebih suka menyebutnya demikian.
I know, today, it should be our day, commemorate. So I turned on Sade, I listen to Lighthouse Family, inviting Radiohead, Playing with Pink Floyd, anything that could bring you here. Bringing back the day when you said you like me ( you don't said love at that time, anyway) And I said, what if I like you too ( As if I don't), but I do like you. And that day changes us. The connection between you and me is became clearer and clearer, day by day. Not through words but kind of spiritual thing, that made me attached to you. And I am not worried about it. Because my biggest obsession within all of my attachment to you is that: I don't want to see you in vain. Pain. Despair. On top of it, I want you to be happy, with, or even without me.
Im not good in theory, you know. Im not good in making poem, either. Im just simply me. Pardonne moi. And Im afraid Im not a good lover. So will you please teach me how to love the way you want me to love you, cos I want to. Will you keep telling me your dream, read me your favorite story, sing me your music, and live me your life?
That's my wish on this commemoration day.

Oh ya, aku menemukan catatanku yang tercecer,

11 Oktober 1999:

Cinta tak perlu definisi
Biar saja dia ada dalam rasa
Jangan kau terlalu berusaha, jangan juga dibatas-batasi
Pada saatnya, Ia akan membuka jalan, yang mendekatkanmu pada jawaban.
Cukup, bukalah hatimu, dan dengarkan baik-baik, apa yang dikatakannya.
( One moment with Mumu)

1:52 PM

Monday, March 21, 2005

After she left

Tidurku memang tak menentu, kadang lama banget, kadang malah nggak tidur sama sekali. Malam terjaga, bengong, lalu ngapain...Aku kehilangan satu teman penghuni rumah. Sekarang Tante sudah tak lagi berani tinggal disitu. Tak lama setelah malam itu, ia mengepaki barang-barangnya, dan kabarnya ia terbang pulang ke Medan, entah kembali entah enggak.
Seperginya ia, malam malah jadi menakutkan, suara selemah apapun terdengar, detak jantung dan desah napas segala makhluk seramai di siang hari. Sholat malam, sudah lama sekali aku tak pernah melakukannya. Aku merasa terlalu 'kotor' untuk berkhusyuk masyuk dalam doa, sholat malam pula. Canggung. Hanya salam yang kukirim untukmu. Lewat angin malam, lewat mimpi, lewat suara gumam, lewat harapan.
Biasanya, aku selalu membiarkan malam lewat begitu saja hingga tak ada yang perlu diingat, kalau perlu ingatan tentang mimpi segera dikosongkan lagi selepas pagi.

4:50 PM

Saturday, March 19, 2005

udah sembuh kok...berkat kamu, kawan dan alam...

aku sekarang udah lumayan sehat. kepala sudah segar, badan terasa lebih ringan, pikiran tidak lagi mumet. ok. dunia aku datang. sekarang tinggal sisanya; tubuh lagi nyari keseimbangannya. akh ya terima kasih buat kamu...telah mendoakan saya di salat malam-malam itu. semoga kamu masuk surga karenanya. lho kok bisa? mendoakan orang yang jelas-jelas keparat apalagi mencintainya setulus angin, wow, apalagi ganjarannya selain yang indah-indah, yang mulus-mulus, yang suka-suka...
tapi sakitku ini rasanya sedikit lebih dimanja. benar aku bahkan enggak melakukan refleksi. ya dia datang, masuk ke tubuhku, ngerusak, diobatain, kalah dia, keluar entah kemana. aku lebih banyak bengong: ngapain ya, ngobrol apaan ya, enggak ada obrolan yang menarik. aku lihat orang-orang di tv saling bicara tentang sesuatu: BBM, Ambalat, Malaysia, TKI, Lambaro, Kelaparan, DPR...Kapan aku disana? tapi ngapain? nambah ketololan. enggak, aku bisa melakukan sesuatu, dengan hatiku, dengan jiwaku. ya tapi apa? masih saja aku ngjokrok di sudut. mataku tambah kunangnya. akh tidur lagi.
cuman itu kayaknya, selain itu aku enggak tahu...diserap keringat, dibasuh air, dibawa angin, disembunyikan para cecak.

eh cerita dong pertama kali punya kartu kredit, pasti asyik didengerin?

3:15 PM

Wednesday, March 16, 2005

Thinkin of You

Beberapa hari ini rasanya kok ada yang ngga ngenakin hati. Malam-malam aku nangis, tapi nggak tau kenapa. Aku sampai berpikir, jangan-jangan kambuh lagi ketagihanku pada yang namanya 'nangis'. Entah ada hubungannya dengan kamu atau enggak, tapi begitu mendapat kabar tentang kondisimu yang sedang nggak sehat, pikiranku kian berkecamuk, are u okay? how bad is it? my, oh, my.. is there something I can do to help?
Penginnya sih nyalahin kamu, kenapa sih nggak sayang ama tubuh sendiri, nggak bisa jaga diri, nggak melakukan mana yang terbaik untuk diri sendiri. Tapi ya sudahlah, aku nggak tega membayangkan kondisimu sekarang. Sakit dan sendirian, duh..rasanya itu perkara yang paling sengsara. Sebab waktu sakit, kita nggak bisa melakukan apa-apa sendiri. Itu saat dimana kita paling dependen ama orang lain. Siapapun yang menemanimu sekarang, seperti berhutang nyawa, jangan pernah dilupain jasanya.
I know, kita bukan tipikal orang yang men sana in corporisano. Kenyataannya, orang-orang yang hanya memikirkan konsumsi tubuhnya itu otaknya terlalu lurus. (remember? itu pernah jadi joke kita) Dalam menjalani hidup yang penuh kegilaan ini kita butuh hal-hal gila yang tidak akan mungkin bisa dimengerti oleh orang-orang yang 'waras' itu (As if we are the other, hehe). But, this time, I ask you, please be good to your body.

3:05 PM

Monday, March 14, 2005

O My Goodness!!
Aku tak tau harus membalas dengan apa. Tulisanmu itu, seperti yang sudah-sudah, sungguh dalam. Bukan saja aku tak bisa mengimbanginya dengan kosakata yang aku punya, tapi juga pada emosi yang terpancar dari tuturanmu. Sementara aku hanya bisa menuntut dan menuntut. Mengeluh dan mengeluh. Merajuk dan merajuk.
Hidupku bagai kutukan. Dan kau mengubahnya menjadi taman, dengan menanami bunga untukku di setiap mimpimu: menatanya, menyianginya dari hama dan pestisida, lalu, seraya mengajakku, memetiknya kelak saat tiba masanya.
Jika bisa, aku ingin berdiam selama mungkin di mimpi itu.
Hidup tak seburuk yang kukira. Pun, tak seindah yang dibayangkan.

4:19 PM

Sunday, March 13, 2005

rasanya jadi....

akh, ya. selalu saja apa yang dipikirkan, apa yang ditakutkan tidak selalu sama dengan kejadiannya. saya tidak bicara apa yang sebanarnya karena itu mengandaikan adanya sesuatu yang benar-benar ada, utuh, tanpa persepktif, kaku diam. maksud saya kadang kita menakuti sesuatu yang sebenarnya hanya hadir dalam buku, dalam televisi, dalam film, dalam pikiran kita sendiri. kita jadi takut melangkah karena kita mengandaikan apa yang kita pikirkan itu benar-benar akan terjadi. konsekuensinya adalah kita sangat berat melangkah (lho, kita?ok aku ganti subyeknya: saya). banyak teman saya dan mungkin juga saya seperti itu. kata pengecut sering sekali dialamatkan ke orang seperti itu. tapi dalam beberapa hal itu juga adalah survival manusia. mengapa manusia bisa kuat dan lebih 'maju' daripada simpanse atau hewan lainnya adalah karena manusia punya naluri untuk menahan diri, mengikuti rasa takutnya. rasa takut pada juranglah yang membuat manusia tidak terjun ke dalamnya. dengan cara seperti itu ia menurunkan gennya ke generasi selanjutnya. adakah rasa takut itu alamiah atau buatan? apakah rasa takut tidak diterima dikalangannya sendiri adalah rasa takut yang alamiah atau dibuat-buat? apakah memakai baju jas dan berdasi ke kantor adalah keharusan dan menimbulkan ketakutan (klien akan hilang, pacar cemberut, turun jabatan, kondikte minus, dianggap aneh, sok seniman) jika tidak memakainya? apakah sosial norm itu dipakai untuk melestarikan rasa takut atau meredamnya atau mengaturnya kapan ia hadir dan kapan ia tiak boleh ada? bingung amat, ya, padahal saya cuman mau ngomong: aku takut tidak lagi jadi telaga bagi kamu, tidak lagi jadi kertas tisumu, tidak lagi jadi sabunmu (enak amat), tidak lagi jadi septi tankmu (makanya bau), tidak lagi jadi mulut dimana: so that out my mouth/my soul may pass into yours, tidak lagi bisa jadi gerimis pagi dahsyatmu itu, tidak lagi jadi apa-apanya kamu...

4:31 AM

Friday, March 11, 2005


Liburan tiga hari, niatnya sih mau ubek-ubek komputer aja. Inginnya sih, ke Jogja, atau kemana.

5:15 AM

Sunday, March 06, 2005

Kenapa nggak bisa?
Hem, perlu dicoba lagi.

6:12 PM

Thursday, March 03, 2005

Bon anniversaire!!

Aku bangun siang. Aku memang ingin tidur lebih lama, sampai aku merasa puas, dan habis rasa penasaran pada tidur. Sebenarnya masih ingin lebih lama lagi. Tapi itu hanya akan bikin badanku tambah nggak karuan, bukannya segar malah nggak bisa bangun.
Beberapa sms ucapan ultah udah memenuhi inbox hanphoneku. Hampir semuanya dari kawan lama. Rupanya aku memang tak punya teman baru yang dekat. Ada Anit, sepupuku yang di Makassar, Ruby dan Ika, kawan SMA ku yang selalu menghafal ultah anak-anak. Ada sih teman baru, Rizka, kawan friendster yang belum pernah kujumpai. Kenapa ya ada orang sebaik itu yang ngafalin ultah orang, sementara aku nggak pernah merasa butuh utk tahu kapan orang lain berulang tahun, karena aku juga nggak tahu mau diapakan momen ulang tahun itu. Biasa saja. Kecuali kalau, tiba-tiba aku merasa cukup dengan hidupku dan memutuskan sampai disini saja. Sekarang usiaku 24, besok 25, 26, dan seterusnya, tiap hari ya begitu-begitu saja. Angka-angka itu terus bertambah, sejalan dengan sel-sel tubuhku yang berevolusi, menua, melayu, lalu kelak akan mati juga. Mati, tentu aku percaya semua orang akan mati, tapi tidak yakin dengan hidup setelah mati.

11:36 AM

Tuesday, March 01, 2005

melankolis, apaan tuh?

Aku tidak bisa menemukan kata yang menggebu-gebu untuk menggambarkan apa yang sedang aku buat ini, anggap saja ini email atau surat yang sedang ku kirim untuk kau baca, lalu bisa kau baca lagi, hingga berulang kali, kapanpun kau menginginkannya, atau tidak perlu kau baca lagi, jika itu yang kau inginkan.
Aku selalu menyukai surat-suratmu. Bahkan surat-surat terakhir sekalipun yang membuat dadaku sesak, mataku pedas, lalu berurai air mata. Aku masih menyimpan semua suratmu, sejak surat pertamamu 10 september 2003 yang kau kirim dengan rasa cinta dan kerinduan yang dalam.
Aku sedang sulit merangkai kata-kata, otakku macet. Bawaannyna pengin marah-marah. Mungkin warna auraku sedang merah. Tidurku tujuh jam semalam berasa seperti tujuh menit. Marah, marah, dan marah. Sedih, sedih, dan sedih, tapi nggak tau kenapa. Tanpa juntrungan. Aku sedang ingin di rumah. Ingin tidur siang. Ingin mimpi. Ingin hujan. Ingin nggak ngapa-ngapain.

12:15 PM






---------------
Laci arsip :
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005