Thursday, April 28, 2005

Sebuah konsistensi, sebuah cerita

SCTV nampaknya lagi tidak punya arah atau sedang kasmaran tetapi kesepian. Sudah dua kali aku melihat film yang sama, pada hari dan waktu penayangan yang hampir sama: Rabu dini hari dan Kamis dini hari. Filmnya adalah Next Stop Wonderland. Bintangnya hanya satu orang yang aku ingat, pemeran utama perempuan, namanya Hopes Davies. Selainnya aku lupa dan tidak aku perhatikan. Tapi film ini memang bagus; dialognya cerdas dan sangat romantis, menghanyutkan dan sedikit sedih. Mungkin karena berbicara mengenai kesepian dan tentang hidup di persimpangan. Dan jazz dengan irama swing dan Bossa Nova serta puisi.
Seorang gadis, Erin (aku jatuh cinta pada nama itu seperti aku juga jatuh cinta pada nama Pilar Ternera atau Dreyfus atau namamu), tiba-tiba memutuskan untuk keluar dari Harvard Medical School, dengan alasan yang tidak terlalu jelas atau mungkin karena alasan yang dia pakai itu terlalu romantis dan sedikit mengejutkan, terutama ibunya, padahal ia adalah murid yang berbakat. Ia memutuskan untuk bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Boston. Ada dua kejadian yang menyebabkannya memikirkan kembali hidupnya: kematian Ayahnya, seorang keturunan Irlandia, dokter tetapi juga seorang penyair - mendedikasikan sebuah buku puisi sadurannya berjudul Heart Needs Home (siapa yang tidak butuh rumah, bahkan seorang Odiepus) untuk dirinya, yang selalu dibukanya sembarang, mengarahkan telunjuknya pada sebuah tempat dan membacanya di bagian itu [ia melakukan itu mengikuti saran penjual buku bekas langganannya-memberinya setengah harga untuk sebuah buku tebal puisi hanya karena Erin terlalu sering membeli buku puisi (pikirnya: hari geenee masih baca puisi!!)], ia melakukan itu karena Ayahnya selalu menyarankannya untuk merenungkan satu kejadian atau apapun bahkan sebaris bait puisi atau bahkan satu kata, setiap hari yang nantinya bisa mendatangkan sebuah perasaan istimewa atau khusus padanya- dan kedua adalah karena ia diputuskan oleh pacarnya, yang seorang aktivis lingkungan hidup radikal [oh!!], gara-gara ia, Erin, sulit berubah, kuno, dan komunikasi pun gagal terbangun; sementara pacarnya sedang sibuk menolak pembangunan dam yang akan mencaplok tanah Adat milik sebuah suku Indian. Pacarnya memutuskannya lewat sebuah video yang dikirimkannya dari tempat pendampingannya.
Erin terluka dan selalu bersikap sinis, juga pada Ibu dan teman kerjanya. Tapi sinis yang sedih dan sinis yang bahagia. Sebuah posisi yang agak sulit untuk ditentukan. Dalam bahasa Gaelik (aku lupa menuliskannya) kira-kira keadaan yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Tampak pada raut wajahnya yang tidak pernah kelihatan bergembira atau membuka senyumnya lebar, sedikit sendu tapi tidak terlalu sedih: langit muram tapi masih ada bayangan matahari dibaliknya.
Pertemuan dengan ibunya di sebuah restoran, dengan percakapan yang lancar dan saling mencoba memahami keadaan diri masing-masing yang sama-sama terluka. Dengan cara keluar yang berbeda: Erin menenggelamkan diri dalam kesedihan yang diam dan mengalirkan diri di sana seperti gunung, seperti telaga, sedang ibunya, dengan santai mengenalkan teman prianya yang baru ditemuinya di bandara dan bermain cinta dengannya. Karena ketertutupan itulah ibunya mempunyai ide untuk mendaftarkan/mengiklankan anaknya, Erin, disebuah koran sebagai perempuan cantik, proporsi tubuh seimbang, periang, berbudaya dan diakhiri dengan larangan: tertutup bagi pemabuk dan tukang mesum.
Iklan itu disambar oleh empat orang-orang keparat dengan otak cetek dan dangkal tetapi, dalam bahasa Sutardji: orang-orang bodoh yang dikasihi Tuhan. Maksudnya, salah satu dari empat orang itu mempunyai seorang kakak, namanya Alan, yang walaupun umurnya sudah 35 tahun [seorang klien dari preman di mana ia punya hutang kepadanya berkata kepadanya: hati-hatilah, kau sedang ada dipersimpangan sekarang. Ketika di luar, dengan wajah yang agak sulit ditebak, entah khawatir atau putus asa atau seperti mungkin hidupku di sana, memperhatikan sebuah mobil kerja tukang ledeng]memutuskan untuk terus kuliah di jurusan Biologi Kelautan; bekerja sebagai asisten di Sea World [terus kecewa karena ia sebenarnya ingin kerja paruh waktu di bagian yang lebih ilmiah, tetapi malah ditawari untuk jadi pegawai tetap membetulkan saluran air], pernah bekerja sebagai seorang tukang ledeng [melanjutkan usaha ayahnya, yang frustasi, yang menghabiskan sisa hidupnya dengan berjudu pacuan anjing, yang berhutang banyak pada seorang preman dan Alan yang harus membayar hutangnya itu], pembaca buku yang tekun dan selalu gagal dalam membina sebuah hubungan dengan perempuan [tidak tepat juga karena ada teman kuliahnya yang selalu mendekati dia, menyukainya karena Alan eksentrik dan rajin mencatat bahan kuliah, yang sempat membuat Alan tidak bisa melihat atraksi langka paus bongkok di lepas pantai karena teman kuliahnya itu kena mabuk laut [bukankah ia di jurusan biologi kelautan?]. Kenyataannya ia cuma memanfaatkan kedekatannya dengan Alan agar bisa meminjam catatannya atau ada alasan lain yang agak kabur karena ia juga dengan santai bercinta dengan dosennya demi sebuah nilai untuk tugas papernya. Alan melihatnya tetapi ia biasa saja. Mulutnya seperti selalu menggigit sesuatu]. Alan pokoknya dianggap sebagai pecundang. Sementara adiknya adalah seorang pengacara yang baru beranjak kaya, muda, keren, dan hendak pindah rumah ke daerah elit di kota Boston dan selalu merasa bisa menaklukkan perempuan manapun yang diinginkannya. Ia mencapai keinginan itu, sebagaimana ketiga temannya juga, tidak dengan menjadi aneh, membaca buku khusyuk dan banyak-banyak, merenungi kejadian sehari-hari agar mendapatkan suatu perasaan istimewa dan khusus (ups, Alan juga melakukan itu juga]. Sebaliknya dengan sebuah ikhtiar yang hanya nasib yang bisa menjelaskannya atau hanya dengan satu kata: bersikap egois. Mereka kemudian bertaruh: siapa yang bisa menaklukkan Erin akan mendapatkan sejumlah tertentu uang.
Sebelum itu, Erin juga, dengan iseng menemui banyak lelaki yang menawarkan dirinya untuk menjadi pasangannya. Bisa ditebak: Erin tidak menemukan yang cocok dengan dirinya. Ia pernah dengan sangat serius mengatakan [waktu itu teman perempuan kerjanya kecewa dengan laki-laki yang ditaksirnya karena ternyata ia seorang gay] bahwa sebenarnya satu satunya cara yang membuat kita bahagia adalah diri kita sendiri dan bukan ada tidak adanya lelaki.
Hanya ada satu orang yang membuat dia bisa membuka dirinya padanya, sayangnya adalah pria itu adalah seorang terapis [ha ha], selebihnya adalah tipikal laki-laki, lebih banyak mengomongkan dirinya, tepatnya kehebatannya, seperti burung jantan yang memamerkan bulu indahnya untuk menarik perhatian betinanya. Kadang memang terasa indah, tetapi lebih banyak membuat ingin muntah. Begitu pun dengan empat laki-laki sombong itu. Erin bisa mencium bahwa dirinya hanya dijadikan seperi anjing pacuan atau dadu oleh mereka berempat karena keempatnya menyebutkan sebuah kalimat: ’konsistensi adalah setan bagi pikiran kecil’ dan lucunya atau gobloknya semuanya menyebutkan sumber yang berbeda-beda, ada yang menyebutkan bahwa itu adalah ucapan pamannya, dari sebuah buku bisnis bahkan dari Karl Marx. Erin membalasnya dengan mengundang keempatnya untuk kencan dengan dirinya dan undangan itu hanya diketahui oleh masing-masing keempat lelaki bodoh itu. Akhirnya sebuah kelucuan dan kepandiran, yang dinikmati Erin dengan senyuman dari seberang restoran sambil menyeruput kopinya.
Saat itulah ia melihat Alan. Mereka bersitatap, melemparkan senyum, namun cuma itu. Alan sedang menunggu teman kuliahnya yang akan membawakannya catatan kuliah yang dipinjamnya.
Erin akhirnya bertemu dengan seorang musikolog etnis asal Brazil, yang tergila-gila dengan musik bossa nova, sebagaimana juga Erin, yang masuk perawatan rumah sakit karena terkena malaria ketika sedang mengumpulkan musik etnik di Bolivia. Lelaki itu jatuh cinta pada Erin dan menyebut wajah yang dipunyai oleh Erin sebagai, dalam bahasa Brazil, Sau Deja atau kebahagiaan dan kesedihan yang bersatu, tidak bahagia tidak sedih. ”kesunyian yang dipunyai oleh satu orang ketika bersatu dengan kesunyian satu orang lagi akan menjadi kesunyian yang sempurna” begitu ia merayu. Atau sambil mendendangkan sebuah sebuah bait irama Bossa Nova yang artinya adalah kebahagiaan itu berujung tetapi kesedihan tidak. Lelaki itu mengajak Erin untuk pergi ke Brazil, setidaknya memanggil kembali ingatan yang pernah dipunyai Erin ketika masih kecil diajak ayahnya ke Brazil, tepatnya Sao Paolo. Nampaknya segala apapun yang bisa mendekatkan Erin pada ayahnya, selalu membuatnya luruh dan lumer seperti es krim. Tetapi ia agak ragu, juga ketika lelaki Brazil itu memberinya tiket. Malam ketika sedang berkemas, ia membuka buku puisi ayahnya dan menemukan kata Linoleum di sana [kata benda, tetapi apa itu?].
Besoknya ia tetap memutuskan pergi ke bandara. Sayang, jalannya macet, dan ia pindah naik kereta bawah tanah. Keretanya penuh dan ia selalu terganggu dengan banyak orang; ia sangat terobsesif dengan wajah-wajah yang diam, seperti tanpa ekspresi, tapi, menurutku, menyimpan kesedihan tertahan. Ia agak pusing dan ketika kereta berhenti di stasiun bandara, semua orang berhambur keluar, ia agak limbung dan akhirnya ia bersandar di pundak seseorang, yang ternyata Alan dan didekatnya berdiri seorang pekerja dengan tulisan Linoleum di dadanya. Kemudian sebuah suara mesin persis seperi kalau kamu naik Busway: perhentian berikutnya....dan di film itu adalah wonderland. Jangan salah,nama itu adalah sebuah tempat parkir dan sekaligus nama sebuah pantai. Mereka datang ke pantai. Saling membuka kenapa mereka suka pantai [Alan mengeluhkan kereta bandara yang selalu penuh dan orang-orang yang terlalu bergegas dan diamini oleh Erin. Alan menyakinkannya bahwa ia sering ke pantai ini, hampir setiap hari, duduk dan melihat ke arah laut sambil membaca buku. Erin terpana dan agak iri dengan kegiatan Alan dan berkata, ia dulu juga sering bermain ke pantai, membaca buku dan merenungkan sebuah hal, bersama ayahnya. Erin heran karena ia baru tahu ada pantai yang indah di Boston]. Alan mengatakan ia melakukan itu hampir-hampir sebagai caranya untuk konsisten. Dan percakapannya jadi seperti ini:
[di pinggir pantai. Pagi menjelang siang. Laut dengan buih putihnya yang tenang. Bangku-bangku kosong yang dinaungi oleh kanopi. Alan dan Erin duduk bersebelahan. Tatapan mata yang seperti telah bertemu sejak dulu. Musik swing mengalun pelan]
[kamera;close up ke wajah Erin]
Erin [sedikit terkejut dengan kata itu] : bukankah konsistensi adalah setan kecil bagi pikiran?
Alan [sedikit terperangah] : sebenarnya adalah {bersamaan dengan Erin}konsistensi yang bodoh adalah setan kecil bagi pikiran yang kecil.
Alan [hampir bersamaan dengan Erin] : Ralph Waldo Emerson
[keduanya tersenyum. Menertawakan sesuatu atau seperti menemukan sebuah misteri]
fade to:
[laut yang luas. Kanopi yang agak muram]
Erin [membereskan rambut dan tasnya] :aku merasa baikan sekarang. Sebaiknya aku pergi. [matanya mengharapkan alan melakukan sesuatu]
Alan [ seperti mengerti, cepat] : maukah kita berjalan-jalan di pantai sebentar?
[Erin cepat dan tanpa pikir panjang, tersenyum, menganggukkan kepala]
Alan [berdiri] : jalannya lewat sini
[musik yang perlahan mengeras. Kamera menjauh dari pasangan itu dan menangkap horizon di kejauhan]

Ada yang menarik dari film ini, yaitu misteri terbesar dalam menjalani percintaan bukanlah pada saat perjumpaan, tetapi apa yang menyebabkan pasangan itu tetap bertahan setelah perjumpaan itu. Itu misterinya. Maka film ini mempertemukan kedua tokoh utamanya tidak di awal atau ditengahnya. Tetapi malah di 5 menit terakhir film. Sepertinya ingin tetap membiarkan misteri itu tetap tidak terjawab. Kedua tokoh dibiarkan berjalan dengan perkembangannya masing-masing. Membangun rumahnya masing-masing. Dan ketika mereka bertemu atau dipertemukan, bagaimana mereka membangun rumah mereka, padahal mereka sudah punya rumah masing-masing? Itu misterinya.
Menurutmu kira-kira apa sih yang tetap menyatukan kita sampai sekarang? Cinta yang bergelora, atau malah cinta yang tertahan dan meledak di suatu saat atau karena berubah menjadi bentuk lain dari persahabatan atau pengertian atau malah karena ketakutan?
Pacar Erin pulang dan dengan mata yang berkaca-kaca mengakui kesalahan dan kekeliruannya [memutuskan Erin dan juga perjuangannya] ternyata suku Indian yang didampinginya berhasil mengalahkan tuan kapital yang jahat, saking bahagianya mereka membangun kasino di atas lahan bekas pekuburan sukunya. Pacarnya mengeluh: semuanya hanya masalah uang. Tidak ada lagi yang memakai perasaan.
Dan ia teringat Erin yang selalu memakai perasaannya, yang karenanya rentan dan gampang remuk. Tapi ia mengharapkan Erin tidak berubah dengan itu. Ia pulang dengan kekecewaan dan menjadi seorang pengantar pizza. Tetapi entah ada setan apa yang membuatnya kembali berjuang, semacam konsistensikah? Ia berjuang kembali untuk membela kaum lemah di kotanya dan melawan tuan kapital jahat.
Erin tidak bisa lagi menerima aktivis itu. Walaupun sebenarnya ia mencintainya. Ia seperti membenarkan ucapannya sendiri bahwa untuk urusan laki-laki selalu ada pilihan.
Sementara lelaki Brazil itu, walaupun berharap besar Erin bisa ikut dengannya ke Brazil, harus menerima kenyataan Erin tidak terlihat di Bandara. Namun di samping tempat duduknya ada seorang gadis yang tergila-gila dengan Bossa Nova dan hendak ke Brazil untuk bersenang-senang.
Ada banyak kebetulan dalam film ini seperti dalam film Serendipity itu. Tapi kebetulan di film ini sangat wajar dan digerakkan oleh tenaga besar yang bergerak dengan sangat pelan semacam kesunyian atau kesedihan. Sebuah kebetulan yang yang telah dipikirkan bukan lagi menjadi kebetulan [aku agak lupa kalimatnya]. Semua karakter, tokoh dan tempat dalam film itu berhubungan dan mengikuti sabda sebab-akibat. Yang pelan-pelan berujung pada pertemuan tokoh utamanya. Pertemuan itu tidak terjadi dengan meledak-ledak. Hampir tawar dan ya seperti itu seperti tertahan. Lumayan bagus. Film ini sangat romantis, menghanyutkan, tidak cengeng dan membicarakan sebuah kisah yang cukup dewasa. Dua kali aku menontonnya, dua kali juga perasaan yang sama muncul: tentang kesendirian dan bagaimana kita berlaku dengannya; kesedihan yang tertahan juga kebahagiaan yang tertahan. Selain juga ingatanku tentang wajahmu yang Sau Deja itu. Lalu, apakah kita konsisten dengan cinta kita? Apakah konsisten kita itu bodoh atau cerdik? Bagaimana percintaan yang konsisten itu? Apakah kau mencintaiku dengan konsisten? Apakah yang konsisten itu yang pelan-pelan tetapi terus ada atau yang meledak-ledak, tetapi tidak ditemukan setiap saat?

7:48 AM

Monday, April 18, 2005

begitulah

hahaha...akhirnya kupecahkan juga. kamu mau ke yogya? what a surprise.

ternyata yang aku ngomongkan ke kamu di chatting kemarin itu udah diomongin ama ethan hawk ya. kok bisa persis ya? aku sama sekali enggak tahu dan aku belum pernah mendengar ethan hawk ngomong seperi itu. dalam arti aku jiplak itu orang punya gaya ngerayu. eh itu filmnya great exspectation, apa bukan?

tapi ya enggak apa-apa deh.

5:56 AM

harus bagaimana

kamu mau ke yogya? mau ngapain? kamu mau istirahat di mana? kamu masih punya teman di yogya gitu?

5:47 AM

Thursday, April 14, 2005

Aku akan ke Jogja

Penginnya sih tanggal 22 nanti. Cant wait to see you

9:20 PM

Wednesday, April 13, 2005

Scary lucid dream

Kemarin malam, lagi-lagi, mimpi yang menyeramkan itu datang, untuk kesekian kalinya. Saat itu aku sudah berniat tidur, biasanya aku tinggal merebahkan tubuhku, memejamkan mataku, lalu alamku sudah langsung berpindah ke astral yang lain. Tapi saat itu, baru saja mataku ku pejam sebentar, tiba-tiba ada bayangan seorang lelaki di dekatku. Tak ku kenal, tangannya memegangi dadaku, paksa. Sesak. Aku ingin teriak. Melawan, tapi tidak bisa membuka mulutku. Aku juga tak berani membuka mata, takut sosok itu lebih menakutkan dari yang kukira. Lalu aku rasakan tangannya bukan hanya di permukaan kulitku saja, juga menyelusup lebih dalam, ke jantungku, dan meremasnya. Entah ia apakan, aku sudah tak bisa mengingatnya. Takut, gemetar dan lemas, apa yang kualami bukanlah mimpi. Seperti kematian yang ingin menjemputku, tadinya kukira begitu. Akhirnya aku masih bisa bangun antara kepasrahan dan sedikit kekuatan untuk melawan. Berkeringat. Aku tak berani tidur lagi sampai pagi tiba.

1:36 PM

Sunday, April 10, 2005

J: aku suka matamu
O: really?
tidak tajam
punya pendirian
ontario303: sendu
mumu: tapi tidak memaksa
mumu: yap
mumu: kadang aku suka air matamu
ontario303: hah
mumu: asin
mumu: sepertinya dia adalah penderitaanmu
mumu: kesakitanmu
mumu: membiarkan air matamu bergerak di pipimu
mumu: dab menghapuskannya dengan bibirku
mumu: menghisapnya pelan
mumu: seperti juga, inginnya, kuhisap juga sepimu
mumu: nyerimu
mumu: aku suka lehermu
mumu: aku cinta belakang telingamu
mumu: karena sepertinya aku bisa menyembunyikan mukaku dari dunia yang kejam
mumu: tidak berperasaan ini
mumu: aku kadang membisikkan namamu di sana
mumu: karena aku takut, disetiap hari-hari kita, kamu melupakan aku
ontario303: no
mumu: aku ingn kamu tetap mengingatku
mumu: dengan cara itu aku ingin menegaskan kehadiranku di dirimu
ontario303: i will not
mumu: sebenarnya bukan belakng telingamu, tapi sedikit lebih bawah dari telingamu
mumu: katanya, disanalah, dibelakang tulang yang sangat kuat ada membran pendengaran
ontario303: so
mumu: dan keseimbangan tubuh manusia
mumu: tak pernah ada aku, tanpa kamu, karena itulah keseimbangan
mumu: aku ingin mengatakannya tepat di pusatnya
ontario303: wow
ontario303: wow
ontario303: fantastic
mumu: suatu saat aku ingin menangis disana
mumu: biar jiwamu juga mndengarnya
mumu: tahu enggak aku melakukan itu hanya jika aku sedang orgasme
mumu: bener kan
ontario303: yap
ontario303: dan tubuhmu mendekapku erat sekali
ontario303: seperti takut terlepas
mumu: iya
mumu: dalam alam hewan, saat seperti itu adalah saat yang sangat rawan
ontario303: sedekat itu hingga tak ada lagi jarak, karena bibirmu kau satukan dengan bibirku
ontario303: sedekat itu hingga tak ada lagi jarak, karena bibirmu kau satukan dengan bibirku
mumu: pejantan yang menang dalam kompetisi memperebutkan betna adalah pejantan yang jadi incaran hewan pemangsa atau kompetitornya
ontario303: maksudnya
mumu: seekor pejantan pemenang akan kehilangan 30 perse berat tubuhnya dan menjadi lemah
mumu: sehingga ia jadi sasaran hewan pemangsa atau kompetitornya
mumu: gitu
ontario303: emang betina ngga ada yang rebutan?
mumu: laki-laki yang sedang orgasme adalah saat yang paling lemah dari keseluruhan dirinya
mumu: ia membutuhkan perempuan untuk menegaskan kembali keberadaannya
mumu: kadang dengan kekerasan
mumu: kadang dengan pemaksaan
mumu: tapi ketahuilah, pada saat itulah ia benar-benar lemah
mumu: 'gitu.......
ontario303: patriarknya tetep ada
mumu: ya mungkin
mumu: dalam pikiran kita khan seekor pejantan yang menang itu enak sekali
mumu: bisa bermain seks dengan sebanyak-banyaknya betina
ontario303: lalu apakah menjadi 'lemah' sesaat itu menakutkan?
mumu: kadang
mumu: tapi tidak juga karena..
mumu: kalo aku percaya
mumu: bahwa tubuh yang aku dekap itu, tubuhmu, tidak akan membiarkan ...
mumu: lemah itu mnejadi sesuatu yg jharus dimanfaatkan
mumu: malah ia akan membantu kembali keutuhannya
mumu: mengembalikan kosmos ynag tlah koyak
mumu: dan memberinya rasa nyaman yang sangat luar biasa
ontario303: kalo gitu harus saling dong
mumu: dengan itu laki-laki itu akan selama nya tergantung padanya
mumu: lho aku khan ngomong perasaanku
ontario303: eh iya
mumu: perassaammu mungkin berbeda, sayang..
mumu: "saling" itu adalah dunia yang diciptakan oleh perasaanku dan oleh perasaanmu
mumu: bukan olehku dan bukan olehmu
mumu: tapi olehmudanolehku
mumu: muku
ontario303: kumu
mumu: gitu
mumu: yap
mumu: kenapa
ontario303: speechless
mumu: aku suka lengan atasmu
mumu: bahumu juga
ontario303: hem
mumu: lembut tapi kokoh
mumu: aku suka menggigit bahamu
mumu: bahu
mumu: atau meremasnya
ontario303: yo
mumu: udah akh boring...........
ontario303: loj
ontario303: loh
mumu: hehehehe
mumu: abis kamunya juga diem saja
mumu: udah malem ya
ontario303: well, nggak ada yg lebih indah dari yg kamu sampaiin barusan
ontario303: seperti puisi
ontario303: boleh diabadikan?
mumu: boleh saja
ontario303: aku tidak akan bisa melupakannya seumur hidup
mumu: aku tergila-gila dengan buah dadamu
mumu: kamu pasti bisa merasakannya
ontario303: Pun aku, ingin membenamkan kepalaku di dadamu yang bidang
ontario303: dan meluapkan semua tangisku
mumu: merasakan jantungmu dengan bibirku
mumu: gila
mumu: menyusur kebawah
mumu: ke perutmu
ontario303: seluruh poriku terbuka
mumu: entah kenapa kamu enggak suka kalo aku agak lama bermain-main di sana
ontario303: rasanya aneh
ontario303: masih ada takut
ontario303: dan gelap disana
mumu: kamu selalu menarik kepalaku ke arah dadamu dan mengarahkannya untuk..
mumu: mencium, menghisapnya
mumu: aku sangat menyukai itu
mumu: sangat
mumu: tapi adakah bagian tubuhmu yang aku benci
mumu: aku emencintai semua tubuhmu
mumu: karena itu aku ingin menyentuhnya
ontario303: aku belum cukup bersahabat dengan v-ku
mumu: tubuhmu yang hangat itu
mumu: kadang berair
ontario303: aku takut kau jijik
mumu: kadang nakal karena ia selalu mejepit "ku"
mumu: aku enggak pernah jijik dengan apapun bagian dari tubuhmu
mumu: aku ingin lidahku merasakan getaranmu di sana
mumu: ada tonjolan kecil yg sangat luar biasa di sana
ontario303: u'r the greatest lover
ontario303: aku bahkan tak tau dimana letak 'lubang'ku
mumu: menyenthnya dengan tanganku, dengan bibirku dengan lidahku adalah
mumu: anugerah besar
mumu: atau menyentuhkannya dengan my little boy
mumu: wow
ontario303: aku tidak akan lagi menahanmu menjelajahinya
mumu: ada sesuatu antara V-mu dan anusmu
mumu: bagian yang kadang membuatmu tergeli-geli
mumu: tapi bagian itu adalah bagian yang sangat rawan
ontario303: apa ya
ontario303: tempat pembuahan?
mumu: klau saja aku bisa menyentuhnya dengan tanganku atau bibirku sekarng
mumu: di sana itu adalah syaraf kenikmatanmu
ontario303: u know
mumu: kamu punya tempat rahasia yang tidak akan habis aku jelajahi, sampai kapanpun
ontario303: really?
mumu: yes
ontario303: kau tak bosan?
mumu: aku ingin tahu kenapa kamu enggak kuat kalau aku menyentuh lututmu?
ontario303: itu kan dulu
mumu: sekarang enggak lagi tokh
ontario303: sebelum kau menjamah bagian pedalaman
ontario303: kayaknya engga deh
mumu: gitu ya
mumu: tapi aku tetap suka lutumu
ontario303: yoi
mumu: lututmu
ontario303: kan jelek
mumu: kata siapa
ontario303: berjelarit, item
mumu: semua lutut itu hitam
mumu: sayang
mumu: atau lebih gelap
ontario303: tapi kan mulus, punyaku engga
mumu: masa sih enggak mulus
mumu: terasanya dibibirku enggak tuh
ontario303: engga diliat ya
mumu: hehehehe
mumu: mungkin
mumu: enggak lah ya
ontario303: tau engga
............

8:00 AM






---------------
Laci arsip :
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005