Sunday, March 13, 2005

rasanya jadi....

akh, ya. selalu saja apa yang dipikirkan, apa yang ditakutkan tidak selalu sama dengan kejadiannya. saya tidak bicara apa yang sebanarnya karena itu mengandaikan adanya sesuatu yang benar-benar ada, utuh, tanpa persepktif, kaku diam. maksud saya kadang kita menakuti sesuatu yang sebenarnya hanya hadir dalam buku, dalam televisi, dalam film, dalam pikiran kita sendiri. kita jadi takut melangkah karena kita mengandaikan apa yang kita pikirkan itu benar-benar akan terjadi. konsekuensinya adalah kita sangat berat melangkah (lho, kita?ok aku ganti subyeknya: saya). banyak teman saya dan mungkin juga saya seperti itu. kata pengecut sering sekali dialamatkan ke orang seperti itu. tapi dalam beberapa hal itu juga adalah survival manusia. mengapa manusia bisa kuat dan lebih 'maju' daripada simpanse atau hewan lainnya adalah karena manusia punya naluri untuk menahan diri, mengikuti rasa takutnya. rasa takut pada juranglah yang membuat manusia tidak terjun ke dalamnya. dengan cara seperti itu ia menurunkan gennya ke generasi selanjutnya. adakah rasa takut itu alamiah atau buatan? apakah rasa takut tidak diterima dikalangannya sendiri adalah rasa takut yang alamiah atau dibuat-buat? apakah memakai baju jas dan berdasi ke kantor adalah keharusan dan menimbulkan ketakutan (klien akan hilang, pacar cemberut, turun jabatan, kondikte minus, dianggap aneh, sok seniman) jika tidak memakainya? apakah sosial norm itu dipakai untuk melestarikan rasa takut atau meredamnya atau mengaturnya kapan ia hadir dan kapan ia tiak boleh ada? bingung amat, ya, padahal saya cuman mau ngomong: aku takut tidak lagi jadi telaga bagi kamu, tidak lagi jadi kertas tisumu, tidak lagi jadi sabunmu (enak amat), tidak lagi jadi septi tankmu (makanya bau), tidak lagi jadi mulut dimana: so that out my mouth/my soul may pass into yours, tidak lagi bisa jadi gerimis pagi dahsyatmu itu, tidak lagi jadi apa-apanya kamu...

4:31 AM






---------------
Laci arsip :
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005